bty
bty

Rosmini tak hentinya tersenyum lebar. Ada rasa bangga dari nada suaranya ketika memperlihatkan sejumlah produk olahan rumput laut produksi kelompok-kelompok binaannya. Ada sejumlah produk unggulan, seperti kerupuk berbagai jenis dan rasa, dodol dan sirup, yang semunya berbahan dasar rumput laut. Harganya pun berbeda-beda, sesuai jenis dan ukuran.

“Sebenarnya masih banyak jenis produk lainnya, ada sekitar 15 produk secara keseluruhan, cuma memang yang di display ini yang paling laku dan banyak pesanannya. Semuanya adalah produksi kelompok, baik yang merupakan binaan dinas secara langsung ataupun tidak,” ungkap Rosmini ketika ditemui di Sentra Produksi Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng.

Keunggulan lain beragam produk kelompok-kelompok binaan Dinas Perikanan dan Kelautan Bantaeng ini adalah dari kemasan yang cantik dan unik, dengan beragam warna dan nama-nama yang unik. Penamaan produk-produk ini sesuai dengan kelompok masing-masing. Ada produk dinamakan Kaktus, Narutop, Rulika, Narut, Chesstick dan sebagainya.

Menurut Rosmini, pendamping kelompok dan juga Kepala Seksi Kemitraan dan Permodalan Dinas Perikanan dan Kelautan Bantaeng ini, produksi beragam produk olahan berbahan dasar rumput laut ini sebenarnya sudah lama, namun pengemasan secara professional dan cantik baru dilakukan dua tahun terakhir, atas bantuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan dan Teknologi/BPPT. Desain dan cetakannya masih merupakan bantuan yang diberikan kepada masing-masing kelompok.

Sebagai binaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Bantaeng, dukungan terhadap sentra produksi ini cukup banyak. Selain dari BPPT, pihak lain yang banyak membantu adalah Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan sejumlah instansi lainnya.

“Kalau dari DKP Sulsel kita banyak dibantu dengan kegiatan pelatihan-pelatihan untuk pengembangan produk, mutu hasil dan pemasaran. Bulan lalu bahkan kita ikut pelatihan dua kali,” jelas Rosmini.

Dipilihnya rumput laut sebagai produk unggulan karena potensi rumput laut yang cukup besar di Kabupaten Bantaeng, khususnya untuk jenis Catoni. Selama ini rumput laut hanya dipasarkan secara mentah, sehingga kemudian dipikirkan bagaimana jika ini diolah menjadi produk bisa langsung dikonsumsi.

“Sebenarnya ada juga jenis rumput laut lainnya, namun kita menggunakan catoni karena hasil lebih bagus. Gel nya lebih banyak.”

Untuk mengolah rumput laut menjadi beraneka macam produk ternyata prosesnya cukup sederhana, meski ada perlakuan khusus.

Menurut Sri Wahyu Ningsih, anggota Kelompok Fitra, yang merupakan dampingan langsung Dinas Perikanan dan Kelautan Bantaeng, rumput laut yang akan digunakan harus diseleksi dengan baik. Setelah terkumpul sesuai dengan kebutuhan rumput laut ini kemudian dicuci. Prosesnya bisa mencapai dua hari.

“Sebelum mencuci harus dilihat dulu kondisi terik matahari. Jika dianggap memungkinkan, maka proses pencucian dilanjutkan selama dua hari. Setelah itu baru kita jemur sampai berwarna putih. Ini bisa butuh waktu hingga tiga hari. Harus benar-benar kering,” jelas Sri.

Setelah benar-benar kering, rumput laut ini kemudian dicacah dengan mesin pencacah. Mereka memiliki mesin pencacah khusus. Namun sering juga menggunakan mesin blender.

“Rumput laut ini kita cacah hingga benar-benar hancur seperti tepung. Nanti ketika akan digunakan dicampur dengan tepung lain. Biasanya kita gunakan tepung dari beras ketan. Lalu dicampur dengan bahan lain, misalnya masako untuk penambah rasa, Baking Hercules untuk pengembang, gula, kanji. Ini kemudian dicampur hingga membentuk adonan,” jelasnya.

Setelah proses pencacahan dilakukan dilanjutkan dengan pengukusan, perebusan hingga diperoleh hasil.

“Setelah produknya jadi langsung masuk dalam proses pengemasan. Proses akhirnya adalah dimasukkan dalam Water Cold Dispenser.”

Untuk 100 gram dengan beras ketan 1 kg bisa menghasilkan 13 bungkus produk. Perbandingan tepung rumput laut dengan teoung beras keta nada 1 banding 10.

“Kalau tepung rumput lautnya terlalu banyak maka hasilnya nanti akan keras.”

Produk olahan rumput laut ini bisa bertahan hingga tiga bulan, meski sejumlah produk hanya bisa bertahan selama sebulan saja.

“Kalau lewat tiga bulan rasanya sudah berubah dan melempem. Sudah tak enak lagi,” ungkap Sri.

Menurut Rosmini, seluruh produk mereka ini sudah memiliki PIRT dari Dinas Kesehatan dan label Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga layak dipasarkan secara luas.

“Ini sisa standarnya semacam SNI. Ini agak rumit tapi akan kita usahakan.”

Tantangan utama produk ini adalah pada pemasaran yang masih terbatas. Sebagian besar pembeli masih merupakan tamu-tamu Pemda dari luar. Meski sudah ada dititip di took-toko namun mash terbatas.

“Sebenarnya sudah ada tawaran dari carefur di Makassar. Mereka sudah minta sampel, namun belum kita tindak lanjuti,” ujar Rosmini.

Menurut Rosmini, untuk saat ini mereka memang belum fokus pada pemasaran secara luas dan mash berkutat pada kualitas produksi. Sebagian besar produk dibuat hanya ketika ada permintaan saja. Paling banyak sekitar 500 bungkus per bulan.

Tantangan untuk produksi lebih pada cuaca. Belum ada mesin pengering khusus, sehingga masih sangat tergantung pada terik matahari. Semua proses produksi juga masih manual.

“Kalau cuaca matahari tidak terik jelek juga hasilnya.”

Untuk menjamin kualitas produk kelompok yang tidak memproduksi di rumah produksi dilakukan kontrol dengan cara berkunjung ke lokasi secara berkala.

Selain aneka macam kerupuk, produk lainnya yang bisa dihasilkan ada;ah dodol dan sirup. Dulu bahkan produk andalan mereka adalah kedua jenis produk ini. Hanya saja produksi kedua jenis produk ini terkendala oleh cuaca yang tak menentu.

“Kalau dodol dan sirup itu butuh pengeringan yang lebih bagus. Kalau untuk kerupuk ini kan tidak butuh perlakuan yang terlalu rewel. Sudah dimasak dan dipotong. Kalau dodol pengeringannya tak bagus bisa cepat berjamur.”

Menurut Rosmini, beragam produk dari rumput laut ini bisa jadi alternative jajanan untuk murid-murid sekolah. Tidak hanya sehat namun juga terjangkau secara harga. Sebungkus kerupuk hanya seharga Rp 5.000 – Rp 10.000,-, tergantung pada ukurannya.

Produk-produk dari sentra produksi ini telah mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Secara nasional, salah satu kelompok dampingan mereka, yaitu Kelompok Alagae bahkan pernah mendapat juara pertama untuk jenis produk olahan.

Mereka juga telah mendapat kunjungan belajar dari berbagai daerah seperti Gunung Kidul, Bitung, dan sejumlah daerah lainnya. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga banyak yang melakukan kunjungan dan magang.

Untuk ke depannya, Rosmini berharap tetap mendapat dukungan dari pemerintah, khususnya terkait pemasaran. Dengan pemasaran yang terbatas sulit mengharap beragam produk ini bisa berkontribusi bagi peningkaatan ekonomi para anggota kelompok.

Sri Wahyu Ningsih misalnya, dalam sebulan ia hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp 300 ribu, padahal dia termasuk anggota paling aktif.

“Kalau bisa kita dibantu pemasaran agar bisa menjangkau konsumen yang lebih luas.”

Dukungan lain yang diharapkan adalah pelatihan-pelatihan lain terkait pengembangan kualitas dan keragaman produksi.

Menurut Rosmini, selain produk olahan rumput laut di Sentra Produksi Rumput Laut ini juga diproduksi pupuk yang berasal dari bahan dasar rumput laut. Dinamakan Bio Care Max. dijual dalam bentul kemasan plastik dan jerigen.

“Bisa dilihat produknya di lemari itu. Kelompknya juga cukup aktif. Cuma Pak Agus pengelolanya tak bisa dihubungi untuk menjelaskan,” ujarnya.

Advertisements