“menjadi mahasiswa tapi tidak peka dengan kondisi sosial adalah penghianatan intelektual” 

Suara Panrita |Opini – Kawan-kawan mahasiswa, selamat datang di penghujung perkenalan lembaga kemahasiswaan sebagai awal legalnya menyandang gelar mahasiswa. Mulailah mengenal apa tujuan belajar, terlepas dari kepentingan pribadi. 

Mulailah mengenal eksistensi seorang mahasiswa bukan sekedar masuk kampus mengisi daftar hadir sebagai penggugur kewajiban dengan harapan mendapat nilai sempurna. Bukan pula berharap masuk kuliah untuk menata hati.

Sadarlah, keadaan kampusmu sedang tidak baik-baik saja. Jangan kalian tertipu dengan mewahnya sekolah/universitas mu. Itu bukan jaminan pembungkaman tidak ada dan bibit fasis sudah punah. Jangan biarkan bangunan megah itu menipumu yang hanya membuat patuh dan menjadikanmu robot bernyawa. 

Kalian adalah pemuda yang harus mengembalikan keyakinan lama yang mulai berkurang, berdebat ilmiah, kritis dan bijaksana. Kalau perlu dan memang perlu, berpetualang seperti tokoh besar pendiri bangsa, Tan Malaka, Soekarno, Hatta dll. Belajar keluar negeri lalu kembali membangun kesadaran di negaranya. 

Kawan-kawan mahasiswa, kini di kampus-kampus, setumpuk masalah menunggu untuk dituntaskan, sistem pendidikan yang ketika dikaji hanya bersifat individualistik, memisahkan kaum intelektual dari kondisi yang seharusnya kalian bicarakan.  

Memaksa kalian mengikuti sistem yang ada yang pada dasarnya dipegang dan disetir oleh kapitalisme untuk kepentingan golongan. Kuliah bukan persoalan IPK yang tinggi namun tak mampu dipertanggung jawabkan (jangan mengagungkan jangan pula terlalu meremehkan), apalagi ajang gengsi-gengsian siapa yang paling elit hidupnya dengan gaya glamor hasil dari perasan keringat orang tua, bukan pula tempat yang hanya menyediakan pasangan untuk dinikmati dengan dalih sayang.

Kawan-kawan mahasiswa, kampus itu bukan tempat dikte yang kalian harus dengar dan telan mentah-mentah, haruslah mencerna dan memilah dengan memandang beberapa sudut penilaian. Kalian adalah generasi yang hidup diera kemajuan teknologi tapi masih belajar cara lama. Mahasiswa  kok disamakan metode belajarnya  disamakan dengan anak SD. 

Menggunakan cara kuno sama dengan mempecundangi demokrasi. Kampus tempat belajar, berdiskusi dan berdebat ilmiah sebab ruang bebas di dunia hanya ruang kelas dimana semua pendapat, hasil penelitian dan teori, bebas dibantai dengan rasional untuk mencari benang merahnya, asal jangan mudah ngambek. 

Kampus itu tempat tukar menukar pendapat bukan toko penjualan diktat yang kebanyakan dilakukan dosen untuk meraup keuntungan pribadi. kuliah tak hanya berpusat pada apa yang ada di bangku dan apa yang dikatakan oleh dosenmu.

Kawan-kawan mahasiswa, kalian berhak mempertanyakan seluk-beluk pembayaran mahal, menuntut transparansi dana kampus. Ingat hak dan kewajibanmu sebagai pelajar. 

Hak untuk mendapat akses pendidikan yang memadai, berkualitas dan memanusiakan manusia sesuai dengan balasan kewajibanmu membayar uang kuliah yang tidak sedikit jumlahnya. Kalian berhak menuntut keadilan. Dosen yang berkualitas, fasilitas perkuliahan yang nyaman patut kalian nikmati. Jangan takut jika benar, sebab semua ancaman dan sanksi hanyalah perpanjangan tangan pembungkaman demokrasi yang terstruktur. 

Kawan-kawan mahasiswa, kalian harus sadar persoalan demokrasi kita sedang dilanda penyakit penyakit komplikasi. Seminar- seminar pelurusan sejarah dilarang, informasi hanya dipandang satu sisi, acara-acara lapak buku dibubarkan, pembantaian diaminkan oleh militer, reformasi rasa orde baru sedang kita rasakan, demokrasi hanya ada diujung laras militer. 

Mahasiswa yang sadar sengaja dibungkam dan dilarang berkesadaran. Dan saat ini masih ada kampus yang secara terstrukur menghardik mahasiswa yang mengkritisi pemerintah. Kalian mahasiswa baru dipenuhi pertanyaan-pertanyaan  sepulang aksi yang membuatmu patah semangat dan ingin kuliah saja supaya cepat terlunta mencari pekerjaan.

 Kalian dilarang berorganisasi oleh kampus kalian. Ketakutan akan kekritisan mahasiswa adalah sebab mereka melarangmu. Kejadian seperti ini bukan hal yang aneh bagi kampus dan  birokrasi kampus yang hanya mengejar target kuantitas, bukan kualitas. Sekali lagi kampus adalah sarana kehidupan glamour dan ajang lomba untuk menjatuhkan kawan sendiri asalkan nama naik daun bagi mereka yang haus pengetahuan tapi takut tekanan dosen. Jeruji dan tempat kuburan massal intelektual bagi mereka yang peka terhadap kehidupan sosial. 

Kawan-kawan mahasiswa, berorganisasilah. Tempat yang indah dan memikat untuk anak muda yang berani. Di sana kamu untuk melawan apa yang memang sepatutnya kita lawan. Memusuhi korupsi, pelanggaran hak asasi manusia hingga membela mereka yang ditindas. Disanalah kamu dilatih memimpin, peduli dan melindungi. Tak ada mata kuliah satupun yang bermuatan itu semua. Sebab kampus hanya mendoktrin kamu untuk cepat sarjana, patuh pada aturan kampus yang dibuat sepihak. 

Sarjana memang bagus jika diluar kalian bisa langsung mengimplementasikan, tapi jadi beban dikehidupan sosial jika hanya tinggal dirumah atau kesana-kemari. Di organisasi pintu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai kejanggalan sosial. Maka jangan ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya. Jangan kuatir karena disanalah kamu akan tersesat di jalan yang benar. Walau kamu tak dijanjikan IPK tinggi tapi kamu memiliki pengalaman yang lebih berharga ketimbang jadi juara.

“Kalau kalian hanya menjadi mahasiswa “kuliah pulang – kuliah pulang” ditengah mahalnya biaya pendidikan maka itu akan sia-sia. Kau khianati harapan orang tuamu. Dia mengharap kecerdasan bukan persoalan nilai. Sebab nilai bukan jaminan kecerdasan. Berorganisasilah ”

Penulis : Anis longsor

Advertisements