Suarapanrita|Makassar – Aroma sendu kian menyegat hatiku, pikirku terbang melayang, aku berada dialam bawa sadar ketika memikirkan khayal tentangmu. 


Entahlah, mungkinkah aku yang terlalu bodoh, dimana sadarku lebih memilih larut sedalam ini tolong jangan membuatku terlalu lama menunggu, kau tahu betul menunggu itu amat melelahkan.

Kerinduan semakin membuatku tak berdaya Sunyi selalu saja bertanya kepadaku “kapan kau bisa meramaikan hatimu”? 

Aku tak tau, bahkan jejakmu masih saja menjadi luka yang begitu tak terkendalikan.

Yang paling ku sayangkan adalah mengapa rindu ini selalu saja berpihak kepadaku.

Setelah semua serpihan luka merambat di sela-sela luka terkecil yang kau gores, menyembukannyapun bukanlah perkara mudah, bahkan untuk menyembunyikannya saja aku tak mampu.

Kucoba untuk tetap bangkit, mencoba mengarungi dunia tanpa sapaan hangatmu, kucoba menjelajahi cakrawala rindu namun sulit, karena bayangmu selalu terlintas dalam tiap bait puisiku, aku ingin mematikanmu di dalam tulisanku, namun kau selalu hidup dalam angan-angan indah diksiku, bagaimana coba aku bisa melupamu? Sedangkan khayalmu masih saja jadi pemanis baitku.

Saat itu pun ku mulai sadar, dimana waktu membuatku terpojok di sudut bait, bait rintih yang  penuh akan kebimbangan, bukan lagi tentang rindu yang tak berujung. 

Kini tentang aku yang harus bersitegang dengan perasaanku sendiri, haruskah ku bertahan? Jawabnya tidak, setelah rindu ini ada dan merenggut semuanya. Kini ku tak sekuat aku yang dulu, lalu pantaskah aku untuk tetap merindumu?

Penulis: Sutra Tenri Awaru.

Advertisements